Sosial Media
0
News
    Home Berita nasional

    Utusan Raja PB XIV Hangabehi Gelar Kirab Sadranan di Pamekasan, Perkuat Ikatan Dinasti Surakarta–Madura

    "Kirab sadranan utusan Karaton Surakarta Hadiningrat di Pamekasan menegaskan hubungan sejarah dan genealogis dinasti Surakarta–Madura sejak abad ke-18."

    3 min read

    Shteratelebongbersinar.or.id Kliku'net | Pamekasan, Jawa TimurKaraton Surakarta Hadiningrat menegaskan kembali kesinambungan hubungan sejarah, genealogis, dan kebudayaan antara Surakarta dan Madura melalui kegiatan kirab sadranan dan napak tilas sejarah yang dilaksanakan di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari mandat budaya yang dilaksanakan oleh rombongan resmi utusan Sinuhun Pakubuwono XIV Hangabehi sebagai Raja Karaton Surakarta Hadiningrat, yang diwakili oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Koes Moertiyah Wandansari (Gusti Moeng) selaku Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat.

    Rombongan utusan Karaton terdiri dari sekitar 65 orang, yang mencakup sentono dalem dari berbagai perwakilan trah keturunan Pakubuwono XIII hingga Pakubuwono XIV, abdi dalem garap, abdi dalem prajurit, serta ulama Karaton Surakarta Hadiningrat. Kehadiran rombongan ini merupakan representasi resmi institusi Karaton dalam menjalankan amanat sejarah dan budaya dinasti.


    Fakta Genealogis: Peran Trah Cakra Adi Ningrat dalam Suksesi Tahta Surakarta

    Secara historis, hubungan dinasti antara Surakarta dan Madura telah terjalin sejak abad ke-18, khususnya pada masa pemerintahan Paku Buwono IV, yang sejak masa Adipati Anom dipersuntingkan dengan putri dari keluarga bangsawan Madura trah Cakra Adi Ningrat.

    Dari garis permaisuri berdarah Cakra Adi Ningrat tersebut lahir penerus-penerus penting tahta Karaton Surakarta Hadiningrat, termasuk:

    • Paku Buwono V
    • Paku Buwono VI
    • Serta jalur genealogis yang kemudian melahirkan Paku Buwono IX

    Selain itu, dalam dinamika suksesi berikutnya, keturunan dari permaisuri lainnya juga melahirkan raja-raja Surakarta, yang menunjukkan bahwa hubungan genealogis antara Karaton Surakarta dan Madura memiliki peran signifikan dalam kesinambungan dinasti.

    Sebagai bentuk penghormatan kultural, Paku Buwono IV menciptakan karya seni adiluhung Bedhaya Dura Dasih sebagai refleksi penghormatan kepada permaisuri berdarah Madura. Sementara itu, Paku Buwono V menciptakan karya seni Ludiro Maduro sebagai penghormatan terhadap garis ibu dan warisan genealogis Madura di lingkungan Karaton Surakarta.


    Kirab Sadranan sebagai Diplomasi Budaya dan Penyambungan Memori Sejarah

    Kirab sadranan dan napak tilas yang dilaksanakan di Pamekasan merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Karaton Surakarta Hadiningrat dalam menelusuri, merawat, dan menghidupkan kembali jalur sejarah yang telah terjalin selama ratusan tahun.

    Perjalanan kirab tahun ini dimulai dari Rumah Wakil Bupati Pamekasan dan mengikuti jalur historis yang berkaitan dengan perjalanan utusan Karaton Surakarta pada masa lalu.

    Dalam kesempatan tersebut, Karaton Surakarta Hadiningrat juga menyerahkan hasil alih aksara dan alih bahasa naskah sejarah perjalanan utusan Surakarta ke Madura kepada Pemerintah Kabupaten Pamekasan, sebagai referensi sejarah resmi dan bagian dari pelestarian warisan budaya bangsa.


    Pernyataan Wakil Bupati Pamekasan

    Wakil Bupati Pamekasan, H. Sukriyanto (periode 2025–2030), menyampaikan apresiasi dan penghormatan atas kehadiran utusan resmi Karaton Surakarta Hadiningrat.

    “Atas nama Pemerintah Kabupaten Pamekasan dan seluruh masyarakat, kami menyampaikan terima kasih dan penghormatan setinggi-tingginya kepada rombongan utusan Karaton Surakarta Hadiningrat serta para keturunan trah Cakra Adi Ningrat yang telah hadir dan melaksanakan kegiatan budaya di Pamekasan,” ujarnya.

    Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Pamekasan berkomitmen untuk mendukung pelestarian hubungan sejarah dan budaya antara Karaton Surakarta dan Madura.

    “Kami siap membuka ruang dan mendukung kegiatan ini secara berkelanjutan, serta berharap kirab dan napak tilas ini dapat menjadi bagian dari agenda budaya resmi daerah yang memperkuat hubungan genealogis, sejarah, dan budaya bagi generasi mendatang,” tambahnya.


    Penegasan Peran Karaton Surakarta Hadiningrat sebagai Penjaga Warisan Sejarah

    Karaton Surakarta Hadiningrat menegaskan bahwa kirab sadranan dan napak tilas ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan merupakan ikhtiar institusional dalam merawat kesinambungan sejarah, memperkuat identitas budaya, serta menjaga hubungan genealogis yang telah terjalin antara Surakarta dan Madura sejak abad ke-18.

    Kegiatan ini juga menjadi manifestasi diplomasi kebudayaan Karaton Surakarta Hadiningrat dalam memperkuat persaudaraan sejarah lintas wilayah dan memastikan kesinambungan warisan dinasti bagi generasi masa kini dan masa depan.


    Demikian siaran pers ini disampaikan untuk menjadi perhatian dan publikasi sebagaimana mestinya.

    Karaton Surakarta Hadiningrat
    GKR Koes Moertiyah Wandansari (Gusti Moeng)
    Pengageng Sasana Wilapa dan
    Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA)
    Karaton Surakarta Hadiningrat


    Foto: KRT PAPA Conan

    Editor: (Mas Vin 22)

    Penulis Artikel: Humas Keraton

    Komentar
    Additional JS